Jumat, 31 Mei 2013

Pengenalan Batik yang Berasal dari Tanah Papua

Pengenalan Batik yang Berasal dari Tanah Papua
Sejak UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan batik sebagai salah satu warisan budaya milik Indonesia, pada 2 Oktober 2009 silam, ketenaran seni melukis dengan canting itu kian bertambah. Selama ini banyak yang mengira wilayah sekitar Solo dan Jogyakarta saja yang menjadi sentra batik lokal di tanah air. Belum banyak yang tahu bahwa Papua juga memiliki perajin batik yang tak kalah daya kreatifitasnya. Lalu seperti apakah motif serta potensi bisnis batik Papua ini?

batik_PapuaPeninggalan arkeologi yang tersebar di kawasan Papua cukup beragam dan lengkap karena mewakili beberapa kurun waktu sejarah peradaban manusia. Bukti nyatanya bisa dijumpai dalam bentuk lukisan-lukisan dinding gua yang ada di area Kabupaten Biak dan Jayapura. Lukisan dinding itu ditaksir oleh para ilmuwan berasal dari zaman 40.000 hingga 30.000 tahun Sebelum Masehi. Peninggalan yang sarat akan nilai sejarah ini kemudian menjadi sumber inspirasi para perajin Papua untuk menghasilkan karya seni bertema etnik.

Tak hanya lukisan dinding, bukti sejarah lain seperti fosil, artefak dan benda purbakala memengaruhi kreatifitas seniman Papua dalam menciptakan cenderamata khas daerah paling timur Indonesia itu. Hal ini terukir jelas pada patung atau pahatan suku asli Papua. Setelah melewati beberapa modifikasi, motif atau corak hiasan kuno tersebut akhirnya dijadikan motif dalam batik Papua.

Bila dibandingkan dengan batik dari wilayah Pulau Jawa, batik Papua mempunyai corak yang cukup mencolok. Batik Papua pada umumnya berwarna cenderung lebih gelap dengan motif yang kebanyakan berpola patung. Lambang-lambang yang dikeramatkan dan ukiran khas Papua juga menjadi ciri khas batik asal daerah berpanorama indah tersebut.

Salah satu batik Papua yang dikenal masyarakat luas adalah batik motif asmat yaitu simbol patung-patung kayu suku Asmat. Batik ini mempunyai ciri-ciri yang sangat khas. Antara lain, warnanya lebih cokelat dengan campuran warna tanahdan terakota (merah kecokelat-cokelatan).

Sebenarnya masih banyak motif batik Papua lain yang dapat ditemui di pasaran contohnya motif burung cendrawasih, motif kamoro (atau simbol patung berdiri), motif sentani dengan ciri gambar alur batang kayu yang melingkar-lingkar dengan jenis warna hanya satu atau dua warna dan ada pula motif yang divariasi dengan sentuhan garis-garis emas dan dijuluki batik prada.

Keunikan motif batik Papua membuatnya dilirik banyak orang, mulai dari konsumen lokal hingga internasional. Hal itu dinilai wajar sebab batik Papua tak hanya melambangkan budaya masyarakat sekitar saja tapi juga menorehkan unsur sejarah dan arkeolog di dalamnya. Karenanya, batik khas daerah paling timur Indonesia ini layak dilestarikan dan dibimbing untuk bisa bersaing dengan aset nasional lainnya. Nah, tertarikkah Anda untuk turut serta mempopulerkan batik Papua ini?

Peninggalan arkeologi yang banyak terdapat di wilayah Papua bisa menjadi sumber inspirasi untuk membangkitkan kreativitas para seniman Papua dalam menghasilkan karya seni bertema etnik.

Hal tersebut disampaikan peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Rini Maryone, di Jayapura, Kamis (14/1/2010), menanggapi nilai penting yang dapat digali dari sumber daya arkeologi, khususnya yang terdapat di Papua.

Arkeologi, kata dia, merupakan bidang ilmu yang mempelajari kehidupan manusia masa lalu berdasarkan bukti-bukti penemuan artefak dan fosil. Dia mengatakan, rentang waktu masa lalu ditetapkan untuk penemuan yang telah berumur 50 tahun ke belakang. Hal ini didasarkan pada UU No 5 Tahun 1992 tentang Benda-benda Arkeologi.

“Peninggalan arkeologi yang ada di Papua dapat menjadi inspirasi untuk membuat cendera mata khas Papua yang tidak hanya bernilai budaya, tapi juga menguntungkan karena bisa dikomersilkan,” ujar Rini.

Dia mencontohkan beberapa kekayaan budaya dari masa lalu yang hingga kini masih dijumpai, seperti corak dan motif hiasan kuno serta patung dan ukiran dari Asmat, Biak, Serui, Tobati, dan Sentani, bisa menjadi motif batik tradisional Papua setelah dimodifikasi.

“Batik sudah diakui dunia sebagai kekayaan budaya Indonesia. Batik khas Papua tentu juga menjadi bagian dari kekayaan Nusantara yang harus dihargai,” ujar Rini.

Selain batik, kata dia, motif etnik Papua dapat dituangkan menjadi lukisan kulit kayu yang banyak dijual di Pasar Hamadi, salah satu sentra cendera mata khas Papua dan cukup banyak diminati masyarakat, terutama yang berasal dari luar daerah.

Rini mengatakan, peninggalan arkeologi di Papua cukup beragam dan lengkap karena mewakili beberapa kurun waktu sejarah perkembangan peradaban manusia. Bukti nyata dari tersedianya sumber daya arkeologi tersebut, kata dia, adalah ditemukannya peninggalan arkeologi berumur prasejarah antara 40.000 dan 30.000 tahun Sebelum Masehi dalam bentuk lukisan-lukisan dinding goa, misalnya di Kabupaten Biak dan Kabupaten Jayapura.mjs54
(sumber artikel : http://www.kriyalea.com/pengenalan-batik-yang-berasal-dari-tanah-papua/)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online disini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Kamis, 30 Mei 2013

Sejarah Singkat Batik Papua atau Port Numbay

Sejarah Singkat Batik Papua atau Port Numbay
Siapa yang tidak tahu batik Papua? Saat ini banyak orang membicarakan tentang batik Papua yang penuh dengan motif indah. Lalu apa kaitan antara Pekalongan sebagai kota batik dengan Papua? Batik Papua merupakan salah satu batik yang dicari banyak orang karena banyaknya motif yang di tawarkan, terutama dalam hal alam dan budaya. Keanekaragaman luar biasa Papua telah di tuangkan dalam motif batik Papua atau lebih di kenal sebagai batik Port Numbay. Bagaimana sejarah singkat batik Papua atau Port Numbay ini? apakah sudah sejak dahulu batik Papua berada di tanah Papua sendiri, atau hanya sebuah inovasi sesorang? Judul pada tulisan ini, ingin memberitahukan bahwa Batik Papua merupakan bentuk inovasi budaya yang terjadi di Papua. Batik Port Numbay di perkenalkan oleh seseorang bernama Jimmy Handrick Afaar. Ia mulai belajar membatik di kota Pekalongan. Sampai saat ini, batik Papua masih menggunakan perangkat membatik dari Pekalongan karena pada dasarnya Batik Papua merupakan hal baru bagi warga Papua setidaknya dalam waktu lima tahun terakhir.

Pelajaran sangat berharga dapat kita lihat dari hubungan seni budaya antar dua etnis yang berbeda. Pekalongan merupakan etnis Jawa sebagai penghasil asli batik kemudian digabungkan dengan kebudayaan etnis Papua untuk menciptakan inovasi baru bernama batik Papua yang menghasilkan motif baru khas Papua. Melihat kelembutan batik Papua dengan motif keanekaragaman hayati maupun kondisi sosial dan budaya masyarakat di Papua seperti burung Cinderawasih, Kamoro (patung berdiri), dan Sentani tentu kita akan melupakan sejenak situasi konflik di Papua. Batik Papua turut menunjukkan eksistensi budaya Papua yang selama ini terkesan terasingkan. Adanya korelasi Pekalongan dan Papua menunjukkan satu ikatan kebangsaan yang kuat di Indonesia ditengah isu separatisme yang terkesan politis.

Rupa-rupanya seni-budaya menjadi jalan pemersatu suku, seperti yang terjadi  dalam kasus Papua. Batik Papua berkaitan dengan batik Pekalongan, tentunya kita tidak bisa melupakan sosok Jimmy yang berperan membudayakan batik Papua serta memberdayakan masyarakat sekitar untuk membatik. Dengan ini, masyarakat Papua akan dilihat dengan karyanya bukan dengan ketertinggalannya serta menunjukkan kesan terbuka dengan budaya lain.
(sumber artikel : http://buletinmadubranta.blogspot.com/2012/02/dari-pekalongan-sampai-papua.html)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online disini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Rabu, 29 Mei 2013

Motif Batik Bali

Motif Batik Bali
Bali menyimpan potensi motif dan desain lokal. Puluhan desain batik khas Bali telah lahir yang biasanya dikawinkan dengan motif batik yang ada dari berbagai wilayah di Tanah Air dan pengaruh motif China.

Batik Bali pun ditawarkan dengan harga bervariasi. Harga batik tulis berkualitas di Pulau Dewata berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp3,5 juta per potong.

Tingginya harga tersebut karena batik-batik tersebut dibuat dari kain bermutu dan digambar langsung dengan tangan serta menggunakan bahan pewarna alami, seperti yang dibuat oleh Anak Agung Inten Trisna Manuambari dengan merek “Diamanta” atau Ida Ayu Pidada dengan label “Batik Wong Bali”.

AA Inten Trisna M, pengrajin batik Bali mengatakan, guna mempertahankan kualitas produknya itu, dirinya terus berupaya melakukan terobosan dengan membuat motif baru yang diperkirakan dapat diterima konsumen di pasaran.

“Biasanya untuk motif baru itu, saya menggabungkan atau mengawinkan motif khas Bali dengan yang berasal dari daerah lainnya di Indonesia, bahkan sampai luar negeri, seperti China,” kata wanita yang akrab disapa Gung Inten itu, di Denpasar,

Dia menjelaskan, perpaduan motif yang biasa dilakukannya adalah mengambil ornamen khas Pulau Dewata, seperti naga, rusa, burung bangau, dan kura-kura. Kemudian memadukan dengan motif dari daerah luar Bali yang biasanya berbentuk flora.

Menurut dia, untuk mewujudkan itu bukanlah hal yang mudah karena perlu waktu dan pengorbanan material bahan baku yang digunakan saat melakukan percobaan-percobaan guna mendapatkan motif dan warna baru tersebut.

Gung Inten mengakui, setiap melakukan percobaan tidak selalu berhasil. Bahkan, dia harus merelakan beberapa karung bahan baku terbuang dengan percuma.

Akan tetapi, tambah dia, dengan percobaan itu terkadang muncul hasil yang memuaskan sehingga produknya itu banyak digemari oleh masyarakat Bali dan kalangan wisatawan domestik.

“Saat ini selain motif, saya juga bermain pada warna yang lebih menonjolkan corak alam. Warna alam itu dipilih karena terkesan lebih halus, dan hasilnya pun banyak penggemarnya sehingga sekarang menjadi tren batik tulis khas Bali,”.
(sumber artikel : http://batikasliindonesia.blogdetik.com/tag/sejarah-batik-bali/)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online disini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Selasa, 28 Mei 2013

Tips Memilih Kain Batik

Tips Memilih Kain Batik


Di toko-toko kerajinan dan toko kain di pasar-pasar, banyak dijual kain batik dengan berbagai corak dan kualitas. Untuk memudahkan memilih agar sesuai antara uang yang kamu keluarkan dengan kualitas barang yang kamu dapatkan, kenalilah terlebih dahulu jenis-jenis batik yang ada. Sekali lagi, dari segi teknik pembuatannya, ada empat jenis kain batik yang dijual orang, yaitu: batik tulis, batik cap, batik kombinasi tulis-cap, batik printing, dan batik cabut (perpaduan teknik printing dan tulis).

Untuk mengetahui apakah sehelai kain batik yang kamu pegang merupakan batik tulis atau yang lain, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan antara lain:

* Motif pada batik tulis meskipun polanya sama tapi bentuknya tidak pernah sama persis (asimetris). Ada bagian yang lebih kecil atau lebih besar dari gambar yang lain.
* Aksen dalam setiap gambar tidak sama besarnya
* Motif batik tulis asli biasanya memiliki aroma yang khas, warna yang digunakan berasal dari kulit-kulit kayu, dan bahan alami lainnnya.
* Kain Mori yang dipakai biasanya lebih berat dibanding mori untuk jenis batik lainnya.

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Untuk Lebih Jelasnya Kunjungi Batik Madura Online di sini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Senin, 27 Mei 2013

Sejarah Singkat Batik Bali

Sejarah Singkat Batik Bali


Memang masih relatif baru, namun perkambangan industri batik di Pulau Bali begitu pesat. Barangkali karena Bali menyimpan banyak potensi motif dan desain lokal. Puluhan desain batik khas Bali telah lahir. Dari yang berharga murah hingga yang selangit. Sejauh ini, harga pasaran rata-rata batik tulis yang beredar di Bali Bali yang berkualitas bagus berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta. Tingginya harga tersebut karena batik-batik tersebut dibuat dari kain bermutu dan digambar langsung dengan tangan serta menggunakan bahan pewarna alami seperti yang dibuat oleh Ida Ayu Pidada (dengan merek “Batik Wong Bali”) atau oleh A.A. Inten Trisna Manuambari (dengan merek “Diamanta”).

Batik sendiri merupakan hasil kerajinan yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak berabad-abad lalu, khususnya di Jawa. Istilah batik konon berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”yang berarti membuat titik. Secara bebas, kata batik merujuk pada teknik pembuatan corak dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna berupa malam (wax), yang diaplikasikan di atas kain. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, dan wol. Jika ada kain batik yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik di atas kain tersebut dinamakan kain bercorak batik, bukan kain batik. Kain macam itu biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak.

Di Bali, industri kerajinan batik dimulai sekitar dekade 1970-an. Industri tersebut dipelopori antara lain oleh Pande Ketut Krisna dari Banjar Tegeha, Desa Batubulan, Sukawati Gianyar, dengan teknik tenun-cap menggunakan alat tenun manual yang dikenal dengan sebutan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Kerapnya orang Bali mengenakan batik untuk berupacara –sebagai bahan kain maupun udeng (ikat kepala), mendorong industri batik di pulau ini terus berkembang dang maju. Kini di Bali telah tumbuh puluhan industri Batik yang menampilkan corak-corak khas Bali, juga corak-corak perpaduan Bali dengan luar Bali seperti Bali-Papua, Bali-Pekalongan, dan lain-lain.

(sumber artikel : http://batikasliindonesia.blogdetik.com/tag/sejarah-batik-bali/)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online di sini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Minggu, 26 Mei 2013

Sejarah dan Motif Kain Batik Pekalongan

Sejarah dan Motif Kain Batik Pekalongan

Indonesia merupakan negara yang memeiliki motif batik daerah terbanyak di dunia, hal tersebut didasarkan kepada beranekaragamnya batik di masing-masing daerah di indonesia, sebut saja batik solo, batik jogja, batik pekalongan, batik papua, batik kalimanta, dan lain-lain. Dala tulisan kali ini saya akan sedikit mebahas tentang batik pekalongan, nantinya apabila ada kesempatan maka batik yang lain pun akan dibahas juga. Jadi mapir lagi ke blog ini ya.

Berikut Gambar Batik Pekalongan :




1. Sejarah batik pekalongan secara singkat.
Batik di pekalongan sejarahnya hampir sama dengan batik solo ataupun batik jogja, yaitu batik yang berasal dari wilayah keraton. Lebih tepatnya pengertian batik pekalongan merupakan hasil dari orang-orang dari keraton mataram yang mengungsi ke pekalongan akibat perpecahan keraton mataram. Perpecahan tersebut disebabkan oleh belanda yang menjajah indonesia. Beberapa daerah di pekalongan penghasil batik yang berkembang pesat di daerah buara, wonopringgo, dan pekajangan. Pada awalnya proses pembuatan batik menggunakan cara manual yaitu dengan cara tigambar atau ditulis menggunakan tangan dan menggunakan bahan pewarna alami yang berasal dari alam. Hal ini berlangsung sampai abad 20an. Siiring perkembangan jaman maka mulai dikenal batik cap yang menggunakan alat dan bahan kimia untuk membuat kain batik.

2. Ciri khas batik pekalongan.
Sebenarnya pola dan motif kain batik pekalongan hampir mirip dengan batik jogj dan batik solo, hal tersebut memang tidak terlepas dari asal-usul jaman dahulu berasal dari satu kerajaan yaitu mataram. Yang membedakan adalah ketika batik solo dan jogja dominan dengan warna putih dan coklat, beda halnya dengan batik pekalongan yang memaduka beberapa unsur warna dalam penyusunnya. Kombinasi beberapa warna di pekalongan menjadikannya batik yang kelihatan dinamis dan modern, hal inilah yang menyebabkan batik pekalongan cukup terkenal diantara batik-batik yang lain. Dan yang menadikan batik pekalongan unik adalah cara pembuatannya atau cara produksi, sejak jaman dahulu sampai sekarang proses pembuatan tidak berubah secara signifikan yaitu masih didominasi dibuat dirumah masing-masing penduduk sehingga tidak meninggalkan kesan naturalnya.
 
 



Batik pekalongan merupakan salah satu batik yang sudah terkenal di dunia, hal ini dibuktikan batik pekalongan sudah di ekspor ke banyak negara di luar negeri baik itu wilayah asia, australia, eropa, sampai amerika. Fakta tersebut membuktikan bahwa apa yang dimiliki indonesia sebenarnya dapat bersaing di tingkat internasinal, tinggal pengembangan dan infrastruktur penujang batik yang perlu ditingkatkan sehingga batik indonesia dapat berjaya di dunia.
(sumber artikel : http://tipsperawatanrambutrontok.blogspot.com/2013/01/sejarah-dan-motif-kain-batik-pekalongan.html)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Sabtu, 25 Mei 2013

Sejarah Batik Surakarta

Sejarah Batik Surakarta




Bukan hanya tempat belanja batik dan belajar membatik semata, Kampung Laweyan merupakan tempat wisata dengan pesona luar biasa. Di kampung itu pulalah muncul tokoh-tokoh pergerakan menentang penjajahan. Hingga kini, aura masa lalu Laweyan masih terasa, terutama ditunjukkan oleh adanya bangunan-bangunan kuno, yang tertutup dengan tembok-tembok tinggi. Asyik jika menyusuri lorong-lorongnya.

Motif untuk pembuatan batik cap (Foto: Blontank Poer)

Sejarah batik Surakarta, pun diyakini berasal dari Laweyan, yang dikenalkan pertama kali semasa Kerajaan Pajang dengan pelopor Kyai Ageng Henis, pada awal abad ke-16. Maka, batik Surakarta itu, ya Laweyan. Dari tlatah Pajang, batik mengular menyesuaikan alur Kali Laweyan, masuk Bengawan Solo dan seterusnya sampai ke Laut Jawa, hingga muncullah motif batik pesisiran. Ekspor barang dari Indonesia dalam pengertian modern, konon berupa batik asal Laweyan pada awal 1930-an.

Kenapa batik Surakarta harus identik dengan Laweyan, sebab di sanalah konon batik bermula, diproduksi secara turun-temurun. Kyai Ageng Henis-lah yang memperkenalkan batik kepada penduduk sekitar Pajang pada awal abad ke-16. Setidaknya, begitulah yang diyakini warga Laweyan hingga kini.

Asal tahu saja, masyarakat Laweyan masih bertahan pada definisi batik, yang tidak hanya merujuk pada sebuah motif semata. Mereka menolak produk pabrikan, yang dibuat dengan menggunakan mesin-mesin modern dengan sebutan “batik”.

“Disebut batik itu, ya bila dibuat dengan menggunakan malam (lilin) dan melalui proses pewarnaan tertentu,” ujar Gunawan, pemilik rumah batik Putra Laweyan.

Tak hanya Gunawan, Widhiarso, juga mengatakan hal yang sama. “Jadi, batik itu bukan terbatas pada motif,” ujar pengurus harian Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan itu.

Naik-turun usaha batik Laweyan selalu beriringan dengan dinamika politik nusantara, sejak sebelum maupun setelah bernama Indonesia. Pada masa penjajahan dulu, Laweyan selalu dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial Belanda, apalagi sejak Kyai Samanhudi membentuk organisasi perlawanan bernama Sarekat Dagang Islam. Proses pemasaran batik pun tak laluasa dilakukan.

Pada masa pergerakan, batik menjadi sumber ekonomi yang juga menopang gerakan perlawanan. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik nasional, dilaporkan kerap berkunjung ke kampung itu, untuk rapat gelap dan melakukan konsolidasi. Ironisnya, masyakarat Laweyan merasa digencet justru pada masa Orde Baru.

Soeharto dianggap sebagai orang di balik masuknya mesin-mesin tekstil modern ke Surakarta melalui Batik Keris. “Tidak mungkin mesin tekstil didatangkan kalau tidak untuk menggencet usaha batik Laweyan. Apalagi, penempatan lokasi pabrik berdekatan dengan Laweyan,” ujar Pak Yanto, juru kunci Makam Kyai Ageng Henis.

Pak Yanto bertutur, sebelum Batik Keris hadir pada awal 1970-an, usaha batik sangat maju. “Di sini banyak saudagar kaya, yang mempekerjakan setidaknya 100 orang setiap rumah,” kenang Pak Yanto. Selain para buruh, kehadiran Batik Keris juga memukul usaha-usaha pemintalan benang yang dikelola perorangan, juga sentra industri lurik di Pedan, Klaten.

“Semua gulung tikar. Orang juga tak mau lagi menjalankan usaha pembuatan benang dari kapas karena kalah murah dengan barang-barang keluaran pabrik modern. Padahal, dulu banyak orang menanam kapas di sepanjang tepian sungai,” tambah Pak Yanto.

Laweyan sendiri, berasal dari kata lawe, yakni serat-serat kapas halus yang merupakan bahan baku pembuatan kain mori. Kata Laweyan menunjukkan tempat dimana banyak benang lawe di sana.

Tapi, wajah Laweyan kini sudah tak semuram beberapa puluhan tahun silam. Popularitas batik yang kian meningkat, bahkan ke kalangan anak-anak baru gede dan remaja, membuat kebutuhan akan bahan batik terdongkrak pula. Dan Laweyan, kini mulai menggeliat. Bila hingga 2004 lalu hanya tersisa 11 usaha batik, kini sudah mencapai 60-an orang yang menghidupkan kembali usaha batik, khususnya batik cap dan batik tulis.

Apa yang dilakukan Pak Alpha, Mas Gunawan, Mas Widhiarso dan kawan-kawan lewat Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan berbuah apresiasi. Pada 7 Januari lalu, Laweyan diganjar hadiah upakarti yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk kategori kepeloporan mereka menghidupkan Laweyan, bukan saja sebagai kampung batik, namun juga kawasan heritage.

Seberapa mahal harga batik Laweyan? Jawabannya adalah relatif. Batik cap bisa Anda beli dengan harga mulai Rp 50 ribuan hingga ratusan ribu. Namun untuk batik tulis, selain kerumitan motif harga juga ditentukan oleh jenis bahan (ada mori hingga sutera). Kalau Anda mesti merogoh kocek hingga jutaan rupiah, jangan dulu Anda menganggap mahal.

Coba Anda hitung sendiri, berapa ongkos produksinya bila untuk menghasilkan satu stel bahan batik saja, ibu-ibu di Laweyan sana harus menorehkan malam lewat canthing selama satu hingga dua bulan? Di luar harga bahan, coba tengok upah minimum regional (UMR) Surakarta yang sudah di atas Rp 700 ribu.

Maukah Anda dibayar sesuai UMR dan harus suntuk bergaul dengan malam dan canthing selama itu hanya demi mengenakan batik tulis untuk menghadiri sebuah pesta atau pertemuan bisnis?
(sumber : http://tentangsolo.web.id/kampung-batik-laweyan.html)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151