Jumat, 07 Juni 2013

Respon Masyarakat Terhadap Batik Sebagai Global Cultural Heritage

Respon Masyarakat Terhadap Batik Sebagai Global Cultural Heritage

Batik telah hidup dan berkembang sejak zaman raja-raja, terbukti dengan relief-relief yang terdapat pada candi-candi. Fakta tersebut dapat diangkat menjadi bukti bahwa batik sebagai budaya bangsa Indonesia. Sejak saat itu dari tahun ketahun batik terus dipertahankan dan menjadi bagian dari kebutuhan, Sehingga bati sekarang tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Corak dan variasi batik yang diproduksi pun disesuaikan dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah. Budaya bangsa Indonesia yang kaya dan beragam telah mendorong lahirnya berbagai variasi batik dengan ciri kekhususannya sendiri.

Karya cipta seni batik merupakan ciptaan yang dilindungi, sehingga pemegang Hak Cipta seni batik memperoleh perlindungan selama hidupnya dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah meninggal dunia (Pasal 29 ayat 1 UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta). Selama jangka waktu perlindungan tersebut, pemegang Hak Cipta seni batik memiliki hak eksklusif untuk melarang pihak lain mengumumkan dan memperbanyak ciptaannya atau memeberi izin kepada orang lain untuk melakukan pengumuman dan perbanyakan ciptaan yang dipunyai tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 ayat 1 UUHC 2002).

Hak Cipta batik tradisional yang ada dipegang oleh negara (Pasal 10 ayat 2 UUHC Tahun 2002). Hal ini berarti bahwa negara menjadi wakil masyarakat Indonesia dalam menguasai kekayaan tradisional yang ada. Perwakilan tersebut dimaksudkan untuk menghindari penguasaan atau pemilikan yang mungkin timbul di antara individu atau kelompok masyarakat tertentu. Selain itu penguasaan oleh negara menjadi penting khususnya apabila terjadi pelanggaran Hak Cipta atas batik tradisional Indonesia yang dilakukan oleh warga negara asing dari negara lain karena akan menyangkut sistem penyelesaian sengketa.

Dewasa ini, masyarakat Indonesia digemparkan oleh klaim negara tetangga atas batik. Negara tetangga yakni Malaysia, mengakui bahwa batik adalah warisan budaya yang berasal dari negaranya. Peristiwa ini menimbulkan adanya adanya dampak positif dan negatif. Dampak negatif dari hal tersebut adalah masyarakat Indonesia sebagai pemilik batik tidak menyadari atas makna keberadaan batik dalam sejarah batik Indonesia. Tidak menutup kemungkinan batik bisa berkembang di Malaysia. Kondisi tersebut akan memberikan peluang juga pada dekade ke depan generasi penerus bangsa tidak mengenal batik. Sedangkan dampak positifnya adalah advertising gratis. Secara tidak langsung hal tersebut dapat menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa batik bukan sekedar aksesoris tetapi mempunyai kelas. Maka salah jika karena klaim tersebut masyarakat Indonesia kemudian berbondong-bondong membeli batik.

Polemik klaim Malaysia atas batik seperti yang dikemukakan di atas, juga memberikan dampak meningkatnya minat orang memakai batik. Batik menjadi tren fashion yang digemari oleh masyarakat. Selain itu munculnya tren batik didorong oleh beberapa faktor, sebagai berikut:
1. Adanya pernyataan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, bahwa warisan budaya dapat diapresiasikan oleh masyarakat Indonesia dengan memakai batik sebagai bagian dari aktivitas kehidupan sehari-hari.

2. Peran perancang busana yang memunculkan tren batik sehingga masyarakat menjadi lebih tertarik untuk memakai batik. Batik tengah menjadi tren fashion Tanah Air. Batik yang dulu utamanya dipakai untuk busana dan perlengkapan upacara adat atau acara resmi dan sering dipakai oleh orang tua telah mengalami perubahan image. Sekarang sudah bukan hal yang langka jika kita melihat anak muda pergi ke kampus atau jalan-jalan ke mall memakai batik sudah merupakan hal yang biasa. Batik kini telah dibuat dengan berbagai jenis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbagai jenis batik tersedia untuk kebutuhan rumah tangga seperti penghias ruangan, lukisan dinding, alas meja, alas kasur, dan sarung bantal.

3. Kebijakan pemerintah daerah dan instansi swasta yang mewajibkan pegawainya mengenakan batik pada hari tertentu sekali dalam sepekan. Kebijakan pemerintah ini secara tidak langsung akan meningkatkan minat orang untuk berbatik.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah Indonesia kemudian mendaftarkan batik ke dalam daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia UNESCO atau Representative List of Intangible Cultural Heritage-UNESCO. Dalam rangka menunjang perjuangan untuk mendapat pengakuan dunia, Menteri Sekretaris Negara didampingi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan "working luncheon" di Ruang Prambanan Hotel Sahid Jaya pada 19 Maret 2009. Acara pertemuan tersebut dihadiri oleh beberapa duta besar negara-negara sahabat yang masuk anggota Subsidiary Body UNESCO, beberapa duta besar negara-negara sahabat yang masuk anggota Intergovernmental Committee ICH UNESCO, Direktur Kantor UNESCO di Indonesia, beberapa Menteri terkait serta dari Yayasan Batik Indonesia, Wastraprema, KADIN, Dekranas, pakar batik, budayawan dan pengusaha batik.

Untuk mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia, pemerintah Indonesia harus melewati proses yang panjang. Setelah melewati proses nominasi Batik Indonesia ke UNESCO, dilanjutkan dengan pengujian tertutup oleh UNESCO di Paris pada tanggal 11 sampai 14 Mei 2009. Hasilnya pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik Indonesia sebagai Global Cultural Heritage ( Warisan Budaya Dunia) yang berlangsung di Perancis. Harapan dan tujuan pemerintah dan para pihak yang terkait dengan dikukuhkannya batik ini adalah memperkuat legitimasi Indonesia dalam pengembangan batik sebagai salah satu warisan budaya.

Pengukuhan budaya suatu negara menjadi Warisan Budaya Dunia atau lebih dikenal dengan sebutan Global Cultural Heritage adalah salah satu bentuk pelaksanaan dari kegiatan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dalam mendorong pengenalan, perlindungan, dan pemeliharaan budaya serta warisan alam dari masing-masing negara di seluruh dunia. Pengukuhan Warisan Budaya Dunia ini diatur dalam Konvensi International (The General Conference of UNESCO) yang ditandatangani di Paris pada 17- 21 November 1972 (World Heritage Convention).

Selanjutnya, Pemerintah Indonesia menetapkan 2 Oktober menjadi Hari Batik Nasional, dan mengajak masyarakat untuk memakai batik bersama. Ini dilakukan sebagai wujud kebanggaan bangsa Indonesia terhadap batik yang telah mendapat pengakuan dunia menjadi warisan budaya yang patut dikembangkan. Selain itu, hal ini membuktikan bahwa batik adalah milik Indonesia yang kaya akan nilai budaya dan filosofi bangsa Indonesia yang tinggi.

Kepedulian pemerintah dalam memperjuangkan batik Indonesia sehingga batik mendapat pengukuhan dari UNESCO, tidak terlepas dari esensi kultural dan historis batik Indonesia. Nilai budaya tak benda dari batik antara lain terkait dengan ritual pembuatan, ekspresi seni, simbolisme ragam hias, dan identitas budaya daerah. Pembuatan batik di beberapa daerah yang diawali dengan ritual khusus bertujuan untuk memberikan nilai estetika dan filosofi terhadap batik secara mendalam. Pengukuhan batik oleh UNESCO bukan semata-mata didasarkan pada batik itu sendiri tetapi lebih didasarkan pada nilai estetika yang terkandung dalam batik. Legitimasi batik sebagai Global Cultural Heritage oleh UNESCO diharapkan dapat berkontribusi positif secara multidimensi bagi masyarakat di Indonesia pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya.

Dalam rangka menanggapi dampak positif dari Global Cultural Heritage dan klaim Malaysia, munculah berbagai komunitas yang merevitalisasi batik. Dengan adanya revitalisasi menyebabkan di pasar-pasat tradisional, supermarket, dan butik terpajang berbagai macam corak dan desain. Revitalisasi desain ditemukan pada usia anak-anak, remaja hingga dewasa. Desain itu dapat dalam bentuk lembaran maupun pakaian jadi. Dari berbagai desain yang dipajang dapat dijangkau oleh kalangan atas dan bawah. Bagi yang ingin membuat desain sendiri dapat menggunakan lembaran batik.

Penetapan batik sebagai Global Cultural Heritage, tidak hanya berpengaruh kepada roda bisnis, tetapi juga berpengaruh terhadap geliat perajin batik di Indonesia. Dengan penetapan tersebut, pengrajin batik menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas dalam mempertahankan batik sejalan dengan membaiknya pasar batik Indonesia.

Secara nasional nilai produksi batik terus meningkat, terutama sejak tahun 2004. Berdasarkan data Direktorat Industri Sandang, Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah, Departemen Perindustrian, tahun 2006 nilai produksi batik Rp 2,9 triliun. Pada tahu 2007 produksi batik meningkat menjadi Rp 3,045 triliun. Penjualan busana batik mengalami peningkatan yang tinggi. Para pengusaha batik mengungkapkan bahwa angka permintaan terhadap batik meningkat terutama saat menjelang lebaran. Batik kini menjadi andalan banyak pedagang dalam berjualan karena permintaan masyarakat yang tinggi.

Greget batik yang diungkapkan di atas apakah akan terus bertahan. Inilah yang perlu dipikirkan oleh pemerintah, masyarakat, dan pengusaha batik. Greget batik ini bukan merupakan respon phobia tetapi merupakan embrio positif dan berkelanjutan. Harapan tersebut kiranya sulit diwujudkan apabila masih terdapat masyarakat yang apatis terhadap batik. Sebagai contoh dikalangan mahasiswa masih banyak yang belum memakai batik. Perbandingan antara mahasiswa yang memakai batik dan yang tidak memakai mencapai 1:100. Padahal, mahasiswa merupakan agen sosial yang dapat memikul keberlangsungan budaya batik.

Untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan batik perlu mengajak kantong-kantong sosial yang belum merespon batik agar mau mengembangkan batik. Selain itu pemerintah serta para pengusaha yang berkecimpung dalam bidang tersebut juga harus berperan aktif dalam mengembangkan batik. Pemerintah dapat memberikan kontribusi melalui kebijakan-kebijakan dan regulasi yang berkaitan mulai dari produksi batik hingga pemasaran batik. Dengan adanya campur tangan pemeritah diharapkan dapat meningkatkan kualitas batik yang dihasilkan sehingga batik Indonesia dapat menjadi salah satu komoditas
ekspor yang dapat diandalkan.

Peran pemerintah dalam mengembangkan batik perlu didukung oleh pihak-pihak lain seperti pengusaha batik dan masyarakat. Pengusaha batik berperan serta dengan cara memperbanyak relasi kerja dan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak yang sekiranya dapat membantu mengembangkan dan mempromosikan batik. Selain pihak-pihak di atas, masyarakat juga diharapkan mau memberikan kontribusi pada perkembangan batik dengan jalan mau memakai batik. Dengan demikian permintaan batik akan meningkat dan tumbuh rasa kebanggaan dan memiliki batik pada diri masyarakat Indonesia.

Kondisi di kalangan mahasiswa di atas sangat tidak mendukung upaya-upaya dari pemerintah maupun upaya yang telah digeluti oleh pengusaha batik. Hal itu selaras dengan pernyataan Mawarzi Idris, selaku anggota Yayasan Batik Indonesia, kreativitas dan inovasi harus terus dilakukan mulai dari bahan, desain hingga motif batik. Motif batik di Indonesia telah memiliki nilai estetika yang tinggi, yang perlu ditingkatkan adalah dalam mempromosikannya ke negara lain. Kuncinya ada pada konsistensi dan komitmen seluruh pihak yang mengembangkan batik sehingga batik dapat berkembang seiring dengan dinamika dan tuntutan zaman.

Usaha-usaha itu hanya menyentuh pada aspek produk belum pada aspek komsumen. Aspek-aspek produk meningkat namun aspek konsumen menurun akan menimbulkan inflasi. Dampak inflasi tersebut mengakibat phobia pada pengusaha untuk memproduksi batik.


Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Kamis, 06 Juni 2013

Perbedaan Antara Batik Tulis, Batik Cap dan Batik Printing

Perbedaan Antara Batik Tulis, Batik Cap dan Batik Printing

- Batik Tulis : antara ornamen yang satu dengan ornamen lainnya agak berbeda walaupun bentuknya sama. Bentuk isen-isen relatif rapat, rapih, dan tidak kaku.

- Batik Cap : antara ornamen yang satu dengan ornamen lainnya pasti sama, namun bentuk isen-isen tidak rapi, agak renggang dan agak kaku. Apabila isen-isen agak rapat maka akan terjadi mbeleber (goresan yang satu dan yang lainnya menyatu, sehingga kelihatan kasar).

- Batik Printing : ornamen bisa sama, bisa tidak, karena tergantung desain batik yang akan ditiru, karena batik printing biasanya meniru batik yang sudah ada, namun yang perlu diketahui tentang warna. Warna batik printing kebanyakan tidak tembus karena proses pewarnaannya satu muka saja.

Perbedaan Proses Pembuatan Jenis Batik Berdasarkan Cara membuat

1. Batik tulis

semua proses dikerjakan secara manual, satu per satu, dengan canting, lilin malam, kain, dan pewarna.

2. Batik cap

digunakan alat cap atau stempel yang telah terpola batik. Stempel tersebut diceupkan ke dalam lilin panas, kemudian ditekan atau dicapkan pada kain. Proses ini memakan waktu yang lebih cepat disbanding pada proses batik tulis, karena pada batik tulis pola tersebut harus dilukis titik demi titik dengan canting, sedangkan pada batik cap dengan sekali tekan anda dapat menyelesaikannya.

3. Batik printing atau sablon

pada proses batik ini, pola telah diprint di atas alat sablon, sehingga pembatikan dan pewarnaan bias dilakukan secara langsung. Jadi, proses batik dapat diselesaikan tanpa menggunakan lilin malam serta canting. Dengan demikian, proses hanya akan dan tentu saja memerlukan waktu yang lebih cepat disbanding pada proses batik tulis dan batik cap.
Kata Kunci Artikel:
pengertian batik tulis, pengertian batik printing, batik printing, pengertian batik cap, MACAM-MACAM batik, macam macam batik, perbedaan batik tulis dan batik printing, pengertian batik lukis, batik cap, perbedaan batik tulis dan batik cap, pengertian batik cetak, alat dan bahan batik cap, cara membuat batik cap, pengertian batik tulis dan batik cap, alat dan bahan membuat batik cap, proses pembuatan batik cap, isen-isen batik, BATIK SABLOn, makalah batik, alat membuat batik, beda batik tulis dan batik cap, pengertian batik sablon, perbedaan batik cap dan batik tulis, definisi batik cap, isen isen batik, alat batik tulis, Cara Membuat Batik printing, jenis-jenis batik berdasarkan cara membuatnya, batik tulis dan batik cap, BATIK TULIS.
(sumber artikel : http://sanggarbatikkatura.com/perbedaan-antara-batik-tulis-batik-cap-dan-batik-printing)


Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Rabu, 05 Juni 2013

Pengertian dan Sejarah Batik Tulis

Pengertian dan Sejarah Batik Tulis
 


Kata “batik” berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna “titik”. Sejak 2 Oktober 2009, Batik sebagai keseluruhan, baik itu dari teknik, teknologi serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)

Batik Tulis adalah sebuah kerajinan tangan yang mempunyai nilai seni yang sangat tinggi dan merupakan sebuah bagian dari budayaIndonesiasejak dahulu kala. Wanita-wanita Jawa pada jaman dahulu kala menjadikan keterampilan membuat batik tulis

Sebagai pekerjaan utama untuk menghidupi keluarga, jadi pada jaman dahulu kala membuat batik tulis adalah pekerjaan yang sangat istimewa bagi para wanita hingga sampai dengan ditemukannya “Batik Cap” yang memberi kesempatan kepada para pria mencoba bidang batik tulis ini.

Tradisi membuat batik tulis pada awalnya merupakan tradisi dari nenek moyang yang kemudian dilanjutkan secara turun temurun, corak batik tulis tersebut dapat dikenali berasal dari batik tulis keluarga tertentu. Beberapa corak batik tulis dapat mewakili kasta seseorang. Bahkan hingga sekarang, beberapa corak atau motif batik tulis tadisional hanya boleh dipakai oleh keluarga kerajaan keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Seni pewarnaan kain batik tulis dengan menggunakan malam (lilin khusus untuk membatik) adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik tulis juga diterapkan di Tiongkok serta diIndiadan Jepang. Di Afrika, teknik seperti batik tulis dikenal diNigeria dan Senegal. Di Indonesia, batik tulis dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit.

Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik tulis di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik tulis ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik tulis adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores,Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi dari nenek moyang dalam membuat batik tulis.

Menurut G.P. Rouffaer, pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Corak-corak tersebut hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat khusus yang disebut canting, sehingga kemungkinan bahwa canting ditemukan di daerah Jawa. Detil ukiran kain batik tulis yang menampilkan pola yang rumit hanya dapat dibuat dengan canting yang telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Ragam corak dan warna Batik tulis dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik tulis memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak batik tulis hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik tulis pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh masyarakat Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik tulis, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
(sumber artikel : http://www.batiktulis.net/batik/pengertian-dan-sejarah-batik-tulis/)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online klik disini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Selasa, 04 Juni 2013

Cara Membuat Kain Batik

Cara Membuat Kain Batik
 

Kain batik sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Indonesia. Batik juga sudah mendapatkan pengakuan warisan budaya dari UNESCO. Tapi, sebagai orang Indonesia apakah Anda sudah tahu cara membuat kain batik? Untuk memperingati Hari Batik Nasional, sejumlah Polwan mengikuti acara membatik bersama. Beberapa ada juga yang memperingatinya dengan memakai batik saat beraktifitas. Tapi, akan lebih baik lagi jika Anda bisa menjaga dan meneruskan warisan nenek moyang ini. Berikut cara membuat kain batik: 1. Ketel Proses ketel adalah tahap awal dari pembuatan kain batik. Secara garis besar, proses ketel adalah perebusan kain dengan menggunakan bahan-bahan alami dan kurang-lebih memakan waktu 7 hari. Setelah kain di ketel, kain dibersihkan dan dikeringkan kemudian diberi motif dengan menggunakan pensil. (Motif adalah pola gambar yang akan dibuat) 2. Canting Proses selanjutnya adalah penutupan motif dengan menggunakan malam atau lilin. Proses ini dilakukan dengan menggunakan alat khusus bernama canting. Proses canting terkesan mudah namun butuh kesabaran dan ketelitian tinggi agar malam tidak mbleber di kain. 3. Celup Setelah semua motif sudah tertutup oleh malam, sekarang saatnya pencelupan atau pewarnaan. Di mana proses pewarnaan batik merupakan proses “buka-tutup”. Ketika kita ingin mewarnai dasar kain, maka seluruh gambar motif harus ditutup dengan malam. Tapi, jika kita ingin mewarnai motif, maka seluruh dasar kain harus ditutup dengan malam. Proses ini akan lebih rumit lagi saat memasuki pekerjaan detail seperti nyecek (membuat titik-titik kecil untuk mengisi motif) dan nyolet (memberikan warna langsung di atas kain dengan menggunakan kuas untuk memberi efek gradasi). 4. Nglorod Proses ini adalah proses perebusan kain yang sudah melalui proses celup. Proses nglorod ini bertujuan untuk meluruhkan kain yang sudah dibubuhi malam. Setelah proses ini selesai, kain bisa dijemur dahulu kemudian baru bisa dibatik kembali. 5. Nembok Proses nembok sendiri adalah proses penutupan malam pada dasar kain, kecuali motif. Semua dasar kain akan ditutup dengan malam menggunakan canting bermata besar (lubang besar). Setelah warna dasar ditembok, baru kemudian motif dihias, dengan menggunakan cecekan (titik-titik kecil dan halus) atau isen-isen (motif pengisi). Setelah proses nembok selesai, barulah proses pewarnaan motif dimulai. Proses pewarnaan ini dilakukan secara berulang sampai semua kain tertutup oleh warna yang diinginkan. Proses pembuatan kain batik ini memang terbilang rumit dan butuh kesabaran. Selain harus teliti, kita juga harus pandai dalam menciptakan motif sendiri. Bagaimana, tertarik untuk mencoba membantik sendiri?
(sumber : http://ciricara.com/2012/10/02/ciricara-cara-membuat-kain-batik/)
 
Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online disini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Senin, 03 Juni 2013

Sejarah Batik Kalimantan

Sejarah Batik Kalimantan

Menurut sahibul-hikayat, Batik kalimantan pertama kali dibuat tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Menjelang akhir tapanya, rakit tersebut tiba di daerah Rantau Kota Bagantung. Tiba-tiba, dari seonggok buih di hadapannya, terdengar suara seorang wanita. Wanita yang kemudian dipastikan sebagai Putri Junjung Buih, yang kelak menjadi Raja di Banua ini.

Namun, sang Putri baru akan muncul ke permukaan jika syarat-syarat yang diminta dipenuhi yaitu sebuah Istana Batung beserta dengan kain yang harus selesai dibuat dalam satu hari. Kain itu pun bukan kain sembarangan melainkan kain yang ditenun dan dicalap (diwarnai) oleh 40 orang putri dengan motif wadi atau padiwaringin. Dari situlah Kain Calapan/Sasirangan atau batik kalimantan pertama kali dibuat.
Bahan-bahan Pembuat Batik Kalimantan

Bahan utama Batik Kalimantan yang banyak digunakan adalah kain dari serat kapas (katun). Karena, pembuatan kain celup ikat masih sejalan dengan proses celup rintang lainnya seperti halnya batik dan tekstil adat. Saat ini, pengembangan bahan baku sudah cukup meningkat dengan penganekaragaman bahan baku non kapas; seperti polyester, rayon, sutera, dan lain-lain.
Corak atau Motif Batik Kalimantan

Corak atau motif batik Kalimantan diperoleh dari teknik penjahitan dan ikatan, yang ditentukan oleh beberapa faktor. Selain dari komposisi warna dan efek yang timbul, juga dari jenis benang atau jenis bahan pengikat.
Dengan mengkombinasikan motif dan corak asli yang satu dengan yang lainnya, maka Sasirangan makin menarik dan kelihatan modern. Selain itu, motif-motif tersebut dimodifikasi oleh para pengrajin, sehingga dapat menciptakan motif yang sangat indah dan modern namun tidak meninggalkan ciri khasnya.

Motif Unggulan nya adalah sebagai berikut:

>Iris Pudak


>Bayam Raja

>Kulit Kurikit

>Ombak Sinapur Karang

>Bintang Bahambur

>Sari Gading

>Kulit Kayu

>Naga Balimbur

>Jajumputan

>Turun Dayang

>Kambang Tampuk Manggis

>Daun Jaruju

>Kangkung Kaombakan

>Sisik Tanggiling

>Kambang Tanjung
(sumber artikel : http://batikasliindonesia.blogdetik.com/tag/batik-kalimantan/)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online disini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Minggu, 02 Juni 2013

Islam Santri dan Kejawen

Islam Santri dan Kejawen


Agama Islam orang Jawa dibagi menjadi dua, yang pertama bersifat Sinkretis dan Agama Islam Puritan. Agama Islam Jawa yang bersifat sinkretis adalah agama yang menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu dan Islam. Sedangkan Agama Islam Puritan adalah agama yang memang sama dengan ajaran agama Islam pada umumnya.
Varian dari agama Islam Jawa adalah Agami Jawi atau Kejawen. Pada buku Kebudayaan Jawa karangan Koentjaranigrat, kejawen adalah suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu-Budha yang cenderung ke arah mistik, yang tercampur menjadi satu dan diaku sebagai agama Islam. Penganut agami jawi ini termasuk dalam agama Islam. Walaupun demikian, pada umumnya penganut kejawen tidak menjalankan kelima rukun Islam secara serius. Misalnya, tidak sembahyang lima waktu, tidak melakukan sholat Jumat, seringkali tidak memperdulikan pantangan makanan haram, dan banyak pula dari penganut agama ini yang tidak berkeinginan untuk naik haji. Namun penganut kejawen masih taat melakukan ibadah puasa dalam bulan Ramadhan.
Berbeda sekali dengan penganut agama Islam Puritan atau Islam Santri yang sangat taat dengan ajaran agama Islam dan melaksanakan lima rukun Islam. Walaupun masih ada campuran dari unsur-unsur animisme dan unsur-unsur Hindu-Budha, namun ajaran pada Islam Santri lebih dekat kepada dogma-dogma ajaran Islam yang sebenarnya.
Pada awalnya Islam masuk ke daerah pesisir dan kota-kota pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa kemudian menyebar sepanjang pantai timur-laut pulau Jawa. Agama Islam di Jawa diajarkan oleh para Wali dalam pondhok-pondhok pesantren. Ada orang Jawa yang menyerap agama Islam sepenuhnya, namun ada pula yang tidak menyerap ajaran sepenuhnya dan mencampur dengan kepercayaan yang dianut sebelumnya. Sehingga penganut agama Islam Santri dan Jawi tersebar di berbagai daerah di Jawa. Penganut dari agama Islam santri biasanya tersebar di daerah pesisir Jawa, Surabaya dan daerah pantai Utara. Sedangkan penganut agama Jawi lebih dominan berada di pedalaman Jawa Tengah, Bagelan dan Mancanegari. (PDS)
(sumber artikel : http://buletinmadubranta.blogspot.com/2012/06/islam-santri-dan-kejawen.html)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online disini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151

Sabtu, 01 Juni 2013

Ciri Khas Batik Papua

Ciri Khas Batik Papua
Batik yang telah mencatatkan namanya di Unesco sebagai Warisan Budaya Dunia yang berasal dari Indonensia, dan umumnya sebagian masyarakat Indonensia mengenal batik itu hanya berada di Pulau Jawa saja, dan ternyata Batik  tidak hanya Jawa saja loh, di Papua juga memiliki Batik.lalu seperti apa batik yang berada di Papua.

Beberapa peninggalan arkeolog, yang tersebar di Papua dengan berbagai ragam dari peradaban sejarah manusia, bukti nyata itu dapat di jumpai dalam bentuk lukisan - lukisan dinding goa yang dapt di temukan di daerah Fak-fak, Biak, Jayapura dan daerah lainnya di Papua. Lukisan yang di perkirakan oleh para Ilmuwan berasal dari zaman 40.000 hingga 30.000 tahun Sebelum Masehi, Peninggalan nilai sejarah ini kemudian menjadi sumber inspirasi para perajin papua untuk menghasilkan karya seni bertema etnik

Tak hanya lukisan dinding, bukti sejarah lain yang berupa fosil, artefak dan benda purbakala juga mempengaruhi kreatifitas Seniman Papua dalam menciptakan cederamata khas daerah Papua. setelah melewati beberapa modifikasi, motif atau corak hiasan kuno tersebut akhirnya dijadikan motif batik Papua.

Batik Papua yang dapat di temukan di pasaran, seperti motif Burung Cenderawasih, motif Komoro, motif Sentani, dan lainnya, dengan dasar warna yang cerah, seperti merah ataupun orange, ada juga motif yang di variasi dengan sentuhan garis - garis emas dan di juluki batik Prada.

Keunikan batik Papua membuatnya kini banyak dilirik pencinta batik lokal maupun international. Batik papua tak hanya melambangkan culture masyarakat yang ada di sekitar, tapi juga menorehkan unsur sejarah dan arkeolog di dalamnya.
Berikut ini adalah gambar - gambar batik Papua sesuai dengan nama dan motifnya :
Batik Komoro dengan motif gambar patung berdiri 


Batik Asmat dengan motif gambar patung duduk


Motif Cederawasih, dengan gambar yang di dominasi dengan burung cenderawasih  


Batik Sentani, dengan motif gambar alur melingkar


Batik khas daerah Papua, yang merupakan ciri khas culture kehidupan masyarakat di papua, ini layak untuk kita lestarikan karena merupakan aset nasional lainnya, bila tertarik untuk memiliki batik - batik papua,  sahabat pembaca bisa berkunjung ke Papua, atau bisa mengunjungi Papua Batik Online
(sumber artikel : http://timikaunique.blogspot.com/2009/11/interview-with-aneka-batik-motif-batik.html)
(sumber artikel : http://greenbirepapua.blogspot.com/2012/09/ciri-khas-batik-papua.html)

Anda Butuh Batik Madura Yang Bagus? Kunjungi Batik Madura Online disini
Alamat Kantor Kami :
Toko Online Bumi Barokah
Jl. Sumber kembar Dsn. Bungbaruh Ds. Kertagena Daya Kec. Kadur Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 69355
HP: 085257293079 / 0817317151